PUISI

PUISI-PUISI KARYA PUTERA IMANI
Semua puisi telah didaftarkan dan dicatat serta mendapatkan hak cipta oleh pengarang, mengcopy menyadur atau mengutip penggalan dari sebagian atau seluruh bagian dari karya-karya tersebut tanpa se ijin pengarang Dede Kusnadi yang bernama sastra Putera Imani adalah melanggar hukum.




LEMARI BUKU YANG TINGGI DENGAN AKU YANG LUMPUH

Ku coba tuk merangkak dan berdiri ditengah kelumpuhan tulang kakiku…
Sejengkal demi sejengkal kuseret tubuhku tuk dekati lemari itu
Ku tak hirau meski panas hari ini tak mampu keringkan baju-bajuku yang selalu basah karena keringat
Kutak hirau meski tiap pasang mata yang menganggap ku sedang bermimpi,berusaha tuk bamgunkan aku agar aku tesadar
Dan aku juga tak hirau pada mulut-mulut yang keluarkan liur serta berusaha tuk padamkan bara semangat yang berkobar menyala didadaku….

Kini lemari itu kian dekat dengan tubuhku yang lumpuh, yang padahal dulu aku tak seperti ini..
Dulu orang tuaku telah menyalakan bara semangat di dadaku agar aku dapat mencairkan saudara-saudaraku yang membeku dalam kemiskinan..
Bukan itu saja,sahabat-sahabat tak henti-hentinya tiupkan angin dan jadikan bara itu api yang menyala.
Tak cukup henti sampai disitu,tak sedikit prestasi kuraih yang jadi kayu bakar dan perbesar api
Namun belum lagi apiku cukup besar tuk hangatkan dan mampu cairkan kebekuan itu…
Tiba-tiba sawah yang satu-satunya tempat sebangai sumber penghasilan dan penjaga bara api itu kini gagal panen…
Tak sempat berpikir tuk perbaiki sawah dan mengganti tanamannya kemudian gempa yang bukan karena alam hancurkan satu-satunya sumber irigasi dan tak mampu lagi putarkan air perekonomian,hingga tak mungkin tuk lagi jadikan sawah bapakku sebagai sumber penghasilan.
Perlahan dan bertahap api perekonomian ayahku,mengecil,meredup,mati dan akhirnya membeku hingga aku tak lagi anak-anak …
Dan parahnya ternyata aku,orang tuakku,saudarku dan lebih luas lagi kaumku yang katanya dilindungi kekuatan penguasa,ternyata harus berjuang sendiri karena kurasa terlalu lama bila ku harus menunggu pihak yang berkuasa diwilayah pertanian ini memperbaiki irigasi dan menyalurkan air.
Entahlah sejauh mana standar kerusakan irigasi yang teraftar dalam perlindungan penguasa dan berhak mendapat bantuan air yang jelas itulah sejarah tentang bagai mana perekonomianku lumpuh .

Kini lemari itu kian dekat dan aku tepat dibawahnya…

Huuh ..!!Kuhempaskan napasku yang terasa sesak tak dapat bertiup bebas diparu-paruku setelah ku tahu ternyata lemari itu berada begitu tinggi sehingga sulit untuk di jangkau terlebih keadaan ku yang seperti ini..
Aku bertanya kenapa lemari itu dibuat setinggi itu?
Tidak bisakah mereka para pembuat lemari membentuknya lebih rendah hingga orang seperti aku dapat menggapai dan membaca buku-bukunya?
Dan atau..inikah yang di inginkan mereka para penulis buku agar buku karyanya lebih terlihat mewah?dengan semakin terlihat mewah semakin besar sumbermata air yang keluar,,,
Ah..entahlah yang aku tahu dari berita-berita yang akulihat di televisi hitam putih dirumah ku,bahwa hanya dengan membaca buku aku dapat mencairkan segala kebekuan, termasuk kebekuan hati penguasa dan keangkuhan kekuatannya..
Tidak hanya itu akupun dengar tahu dengan kekuatannya penguasa memaksa kita menamatkan membaca salah satu buku, yang sementara jangankan untuk membacanya bahkan untuk menggapai lemarinya pun terlalu sulit…

Ini hanya berharap sehempas napas yang tak terengah
ditengah berat dan gontainya kakiku melangkah.
Dan…ini adalah sekedar usahaku yang ingin mengganjal
Perutku yang berteriak keroncongan karena padi yang
kutanam kini sedang puso.
Dan mungkin ini jualah sebuah usaha kecilku untuk membuka irigasi agar sawahku tak lagi kering,
Parahnya ternyata aku harus berjuang sendiri karena kurasa terlalu lama bila ku harus menunggu pihak yang berkuasa diwilayah pertanian ini membuka dan menyalurkan air.

Putera Imani

Banyak Hal Yang Menyinggungku

Ku putuskan tuk berhenti membaca secarik kertas yang berisi puisi, karena ku merasa tersinggung dengan puisi tersebut ku berhenti dan akhirnya ku hempaskan ketanah meski tak keras.

Masih diatas kursi bambu yang tali penganyamnya sudah terurai berantakan karena bale-bale bambunya sudah tak lagi ada pada tempatnya, aku sendiripun tak tahu kemana? Yang aku tahu dua diantara sisanya tiga hari yang lalu ibuku menggabungkannya dengan ranting pohon rambutan untuk memasak seliter beras yang dihutangnya dari warung Mak Iroh di seberang gang yang bau pesing didepan sana.

Pandangan ku kosong kedepan menembus barisan pohon singkong yang kering, daunnya menguning hingga kepucuk, bahkan rontok, sementara batangnya yang meliuk-liuk terbawa angin meski sepoi, kian menggambarkan betapa tak suburnya pohon singkong itu.

Lagi-lagi perasaanku tersinggung oleh keadaan pohon itu dan dengan sengaja ku palingkan muka dari memandangnya.
Kini kuarahkan pandanganku kesamping rumahku yang tak berubah bahkan parah anyaman biliknya itu merenggang hingga dapat ku lihat ujung dari kain spanduk yang ku pakai sebagai gorden itu menjulur keluar karena tertiup angin yang menembus jendela meniupkan benih-benih penderitaan raga yang sejak aku lahir telah tergenang di sungai Ciliwung yang menghitam...

Putera Imani

05/08/99

Harap memetik mawar

Barang kali sang puteri terkejut
Saat menerim coretan dan kertas busam ini
Terlalu lama waktu ku gunakan untuk menghapus sesuatu tentang bunga ini
Tapi kau mawar yang aku miliki tak dapat aku tutupi

Ku sadari kau telah tancapkan duri di badan ku
Dan aku juga menyadari tentang siapa aku…
Aku adalah seorang yang memilki harum mawar
Hari ini ku coret kan tinta hitam di atas kertas
Dan berharap di sentuh oleh mu
Walau pun kau pernah tancapkan duri di dadaku
Bagiku itu bukan masalah karena semua mawar pasti berduri
Dan siapa saja yang memetik mesti rela tertusuk durinya


Malaikat pertama dialam nyata ku adalah kau
Pemilik kesejukan salju disetiap napasmu
Sutera terindah dilima benua adalah sentuh mu
Dan hidupku diladang emas oleh kasihmu..
Serta kau padam kan api neraka didadaku oleh sayangmu….

Kau kenalkan aku dunia tampak mata…
Kau tuntunkan sisi kiri dan kanan ku
Ingatkan pikirku kanan adalah surga
Dan tuk hindari kiri harap tak terjebak

Setetes air mata darimu dalam doa adalah mutiara surga
Sehelai rambut pengorbanan mu adalah benua bagiku
Taksinggah dipikiran ku lautan emas yang sebanding dengan juangmu

Putera Imani


UNTUKMU AKU JADI PENGECUT 10/11/01


Aku tak berani mengangkat mukaku dihadapanmu
Aku yang telah tenggelam dan berlumur kedalam dosa
Aku yang selalu berucap ya meski tidak
Aku yang selalu bersembunyi dibalik kesenangan
Dan mencoba meraih keuntungan

Aku yang tak bernyali
Aku yang tak dapat nampakan ujung hidungku
Dan keluar dari persembunyian
Aku selalu takut
Aku selalu khawatir jika aku akan sendiri
Aku tak ingin mereka dekati aku
Lari dan enggan berpaling
Setelah ku buka topeng dewaku dan keluar dari persembunyian

Pengecut adalah aku
Munafik juga diriku
Aku yang selalu menuntut kesempurnaan
Aku yang tak puas, berlari dan bersembunyi dengan keadaan
Bintang dilangit lah yang membuatku munafik
Masa depan yang ku gantungkan disanalah yang memaksa aku jadi pengecut
Serta mereka yang selalu menunjuk mukaku
Merekalah yang membuat aku berembunyi

Putera Imani